Thursday, October 12, 2017

Mungkin kita butuh app untuk empati. Serius.



Gue masih suka heran mampus dengan ketidak mampuan orang lain yang kurang lebih kondisi mentalnya masih masuk ke spektrum "normal", tapi ngga mampu untuk punya empati ke manusia lain. Apalagi mereka-mereka yang termasuk dalam kelompok minoritas (note, kemungkinan lo termasuk dalam kelompok minoritas sebenarnya 99% karena kalau konteks, situasi dan kondisi lo diubah-ubah, pasti gue bisa menemukan lo bagian dari kelompok minoritas tertentu). Belum lagi kalau ditambah mereka-mereka ini pernah mengalami yang namanya diskriminasi, dilecehkan, dan terjebak stereotipe dari orang lain. 




Kalau pernah sakit hati, tersinggung, ngga suka mendapat perlakuan seperti itu dari orang lain karena rasanya ngga adil, kenapa dilakukan ke orang lain lagi?

Bales dendam? Intelegensinya ga sampe untuk buat benang merah? Kurang pergaulan sampai ngga tau ada orang-orang lain yang diperlakukan ngga adil persis seperti yang dia alami?

Waktu gue kuliah dan belajar tentang mental illness, otomatis gue belajar "siksaan" masing-masing individu maupun orang-orang sekitarnya yang harus menghadapi gejala-gejala ngga enak dari gangguan mental. Di buku teksnya sih cuma dikasih sepintas apa yang para individu ini rasain, tapi gue bisa tuh otomatis berempati dengan para individu ini. 
 
Bukannya itu salah satu kemampuan dasar manusia ya? 

Bahkan ke para sosiopat dan pedofil pun ternyata gue masih bisa menemukan celah-celah untuk berempati kalau ada hal-hal yang di luar kuasa mereka. Definisi "hal-hal yang di luar kuasa" pun juga ngga sesederhana "apa yang mereka sudah lakukan, artinya mereka ambil keputusan secara aktif dan sadar". Faktor-faktor seorang manusia pada akhirnya punya nilai yang dia pegang erat banyak banget.
Sama ketika lo di-judge sama orang secara hitam putih padahal sebenernya lo punya beberapa alasan (yang menurut lo pribadi) kuat kenapa lo melakukan sesuatu dan pantas untuk setidaknya didenger dulu sama orang lain yang nge-judge lo. 

Lalu mengaca ke diri gue sebagai perempuan (Hi, sexism) dan queer (bisexual pula yang seringnya sering ga dianggep juga sama para homo). Lalu masuk ke era terorisme ekstrimis muslim seperti Al-Qaeda dan ISIL yang berujung ke kepercayaan gue jadi bahan caci maki dunia internasional.

Begitu banyak kesalah pahaman antara pengelompokan semu manusia dan jauh lebih banyak yang ngga sadar kalau apa yang mereka lakukan ke orang lain adalah hal yang mereka ga suka alami ketika mereka di posisi objek. 


Yang Atheis asik menghina yang beragama, begitu juga sebaliknya. Yang cacat fisiknya bisa homofobik. Yang di kantor ngga naik-naik pangkat karena jenis kelaminnya perempuan, pulang ke rumah lalu ngomongin anak tetangga yang katanya sudah ngga perawan. Dan yang miskin pikir semua orang berada pasti sombong. 

6000 tahun peradaban manusia. Ukuran otaknya katanya tambah besar. Udah bisa saling komunikasi dari sisi dunia yang berbeda. Udah bisa foto-foto planet terluar. Tapi kemampuan untuk berempatinya masih di situ-situ aja. Ngga bingung?

No comments:

Post a Comment

Please be kind, thank you