Gue masih suka heran mampus dengan ketidak mampuan orang
lain yang kurang lebih kondisi mentalnya masih masuk ke spektrum
"normal", tapi ngga mampu untuk punya empati ke manusia lain. Apalagi
mereka-mereka yang termasuk dalam kelompok minoritas (note, kemungkinan lo
termasuk dalam kelompok minoritas sebenarnya 99% karena kalau konteks, situasi
dan kondisi lo diubah-ubah, pasti gue bisa menemukan lo bagian dari kelompok minoritas
tertentu). Belum lagi kalau ditambah mereka-mereka ini pernah mengalami yang
namanya diskriminasi, dilecehkan, dan terjebak stereotipe dari orang lain.
Kalau pernah sakit hati, tersinggung, ngga suka mendapat
perlakuan seperti itu dari orang lain karena rasanya ngga adil, kenapa
dilakukan ke orang lain lagi?
Bales dendam? Intelegensinya ga sampe untuk buat benang merah? Kurang pergaulan sampai ngga tau ada orang-orang lain yang diperlakukan
ngga adil persis seperti yang dia alami?
Waktu gue kuliah dan belajar tentang mental illness,
otomatis gue belajar "siksaan" masing-masing individu maupun
orang-orang sekitarnya yang harus menghadapi gejala-gejala ngga enak dari
gangguan mental. Di buku teksnya sih cuma dikasih sepintas apa yang para
individu ini rasain, tapi gue bisa tuh otomatis berempati dengan para individu
ini.
Bukannya itu salah satu kemampuan dasar manusia ya?
Bahkan ke para sosiopat dan pedofil pun ternyata gue masih
bisa menemukan celah-celah untuk berempati kalau ada hal-hal yang di luar kuasa
mereka. Definisi "hal-hal yang di luar kuasa" pun juga ngga
sesederhana "apa yang mereka sudah lakukan, artinya mereka ambil keputusan
secara aktif dan sadar". Faktor-faktor seorang manusia pada akhirnya punya
nilai yang dia pegang erat banyak banget.
Sama ketika lo di-judge sama orang secara hitam putih
padahal sebenernya lo punya beberapa alasan (yang menurut lo pribadi) kuat
kenapa lo melakukan sesuatu dan pantas untuk setidaknya didenger dulu sama
orang lain yang nge-judge lo.
Lalu mengaca ke diri gue sebagai perempuan (Hi, sexism) dan
queer (bisexual pula yang seringnya sering ga dianggep juga sama para homo).
Lalu masuk ke era terorisme ekstrimis muslim seperti Al-Qaeda dan ISIL yang
berujung ke kepercayaan gue jadi bahan caci maki dunia internasional.
Begitu banyak kesalah pahaman antara pengelompokan semu manusia dan jauh lebih banyak yang ngga sadar kalau apa yang mereka lakukan ke orang lain adalah hal yang mereka ga suka alami ketika mereka di posisi objek.
Yang Atheis asik menghina yang beragama, begitu juga
sebaliknya. Yang cacat fisiknya bisa homofobik. Yang di kantor ngga naik-naik
pangkat karena jenis kelaminnya perempuan, pulang ke rumah lalu ngomongin anak
tetangga yang katanya sudah ngga perawan. Dan yang miskin pikir semua orang berada
pasti sombong.
6000 tahun peradaban manusia. Ukuran otaknya katanya tambah
besar. Udah bisa saling komunikasi dari sisi dunia yang berbeda. Udah bisa
foto-foto planet terluar. Tapi kemampuan untuk berempatinya masih di situ-situ
aja. Ngga bingung?


No comments:
Post a Comment
Please be kind, thank you