Thursday, October 26, 2017

KENAPAAAH?!

Gw tu sebenernya pengen ngomel.

Ngomel tentang kenapa sodara sebangsa gw makin ANEH pemikirannya,kenapa sodara seiman gw makin KONYOL sikapnya,dan kenapa beberapa sodara sedarah gw bisa ikutan ANEH pemikirannya dan KONYOL sikapnya?

Kenapa?KENAPA?!

Okey,kalo soal mengkritisi pemerintah dan mengecap beberapa tindakan sebagai "pencitraan" okey,gw gak bisa memaksakan mereka melihat yang gw pahami kalo mereka sendiri punya dasar berpikir sesuai dengan yang mereka lihat dan pahamitapi dengan memojokkan ras tertentu?

KITA TURUNAN MEREKA JUGA HEEEEY!!!!MASIH DEKAT PULA HEEEY,GAK SAMPE 10 TIMES REMOVED!!!

Berasa maling treak maling...

Uda gitu aja,mau ngambek dulu di pojokan.

Kzl zbw!

Wednesday, October 25, 2017

Ngomong Tentang Tuhan Versi Gue


Pada dasarnya gue orang yang religius, so in times of trouble, i ran to God. It’s a good thing, no? 

Beberapa waktu lalu, ada kejadian dimana gue bantuin temen gue untuk cari jalan keluar masalahnya. Lalu datanglah sebuah statement dari seorang calon pemuka agama yang bilang kurang lebih seperti ini:

“Lo tau, setelah semua yang lo lakukan ini, semua dosa yang lo perbuat ini, lo tuh nggak pantes untuk datang ke gereja. Lo nggak layak untuk datang minta advice dari pendeta, nggak layak untuk minta pengampunan dari tuhan. Lo itu berdosa besar, bahkan untuk nginjekin kaki di gereja aja lo nggak layak.”

(Kalimat sudah diperhalus sedemikian rupa supaya yang baca nggak ikut sediih kaya gue wkwk)

Reaksi pertama dalam pikiran gue adalah, “DRAMAAAKKK DEH CYINNN!!!!” Huft.
Kata-katanya sakit banget sih di gue, apalagi kalo pake kata-kata aslinya. Dramak banget.Gue sangat terganggu dengar omongan seperti itu lagi karena gue sudah beberapa kali ada di posisi itu. Apalagi kata-katanya datang dari seorang calon hamba tuhan yang akan menggembalakan domba-domba terhilang. Tsaelahhh. Elu kemane aje boy? Ini tuhannya sama apa nggak sih? Beda kali ya?

Gue nggak habis pikir, karena selama sekian lama gue hidup, di masa paling nggak enak pun gue masih bisa ngerasain kalo Tuhan itu baik, dan Tuhan yang gue sembah bukan Tuhan yang seperti orang itu bilang.

Lewat postingan ini, gue cuma mau nyampein beberapa hal ke orang-orang yang mungkin pernah ada di posisi gue atau posisi orang itu. Kalau Tuhan itu baik banget loh, saking baiknya sampai ketika elu bikin dosa segede dunia juga, Dia tetap buka pintu untuk kita bisa datang. Nggak, gue bukan mau kristenisasi di postingan ini. Menurut gue ini berlaku juga untuk semua agama, siapa pun Tuhan lo. Kalau Tuhan nggak mengampuni dosa manusia, kalau Tuhan segitu pendendamnya, gue percaya itu bukan Tuhannya siapa-pun.

I’ve been through a lot to come into this conclusion, and i’ve experience so many rejections from many people. But I do believe, God is still very good to us.

Sering kali kita lupa kalau Dia Tuhan, dan kita manusia. Tuhan yang udah nyiptain kita, dan Tuhan yang akan ambil nyawa kita juga nantinya, Tuhan yang akan mengadili kita nanti di akhirat, terus kita samain dia sama manusia yang cuma butiran debu-debu intan ini terus antara kita taro diri kita sejajar sama Tuhan di atas atau kita taro Tuhan sejajar sama kita di bawah. Tuhan itu di pancasila dikasih label Tuhan Yang Maha Esa. Dia maha segala-galanya.



Tuhan yang gue kenal itu segitu sayangnya sama manusia sampe dia masih nawarin pengampunan dosa meskipun kita nggak layak diampuni. Kebaikannya Tuhan itu jauh lebih besar daripada dosa kita. We cannot even comprehend His love. Jadi jangan batasin Tuhan dengan pikiran dan akal kita. Kita itu lower level creature. I don’t want to put bible verses in here because I know most of you don’t want to read it anyway. But try to experience God’s love.

If you feel like you need to ask for God’s forgiveness, go ask. Learn from your mistakes, and make it better. Nggak usah hiraukan orang-orang yang ngomong negatif tentang lo pergi ke tuhan, lari ke gereja, ke masjid, ke pura, ke wihara, konsultasi sama pemuka agama lo, dll. Nggak ada yang salah dengan itu. Mungkin mereka yang bilang seperti itu belum berdamai sama diri mereka sendiri. :)

I've been torn down few times, jadi rasanya nggak enak banget kalo ada orang yang gue kenal dan gue tau ngalamin hal yang serupa tapi tak sama a.k.a diginiin juga.

Yang gue tau, Tuhan segitu baiknya sampai Dia nerima kita apa adanya. Nerima kita sebagai kita dengan semua kekurangan dan dosa kita. Gue sangat beruntung karena gue dapet temen yang ngasihtau gue berkali kali kalo Tuhan sayang sama gue despite semua dosa yang gue bikin. Kalo gue diterima sebagai diri gue, dan nggak ada yang salah dengan jadi diri gue sendiri selama gue mau berproses untuk jadi orang yang lebih baik. Gue juga jalan sedikit-sedikit. Nggak bisa langsung berubah jadi orang super holy sampe kalo jalan orang-orang pada jatuh rebah. Nggak mau juga kaya begitu. Wkwkwkwkwk. Serem abis. Gue masih jadi diri gue, masih bikin dosa, masih begajulan, masih ya begitu deh. Tapi gue mau jadi orang yang lebih baik, dan gue mau belajar untuk jadi 'a decent human being'.

Feel free to talk to me! :) Rei signing out.

Monday, October 16, 2017

Gimana?

How to give a good advice to a close friend who already thinking about a divorce plan?

Alias, gimana caranya memberikan saran yang baik kepada teman dekat yang sudah berpikir tentang rencana perceraian?

Jawabannya, gak ada, karena jelas, cerai itu tidak baik, tapi hubungan tanpa keinginan yang kuat, terutama usaha yang kuat untuk tetap bersama juga tidak baik.

Tapi seorang teman bertanya dan lu pengen jawab jangan tapi lu gak tau situasi yang pasti dan apa yang ada dalam hati dan pikiran teman lu dan pasangannya.

Cara aman si dgn bilang "berdoa meminta petunjuk pada Tuhan" itu uda paling bener, tapi kita bicara tentang manusia, dan manusia itu sangat, unik kalo dibilang gila itu menghina, mereka akan tetap cerita ke sesama manusia bukan karena mereka gak percaya kuasa Tuhan, tapi karena dari sesama manusia mereka berharap untuk mendapatkan petunjuk, kalo gak sekedar dukungan either atas sikap mereka ato pendapat mereka tentang bukan mereka yang salah, yang kemudian kadang akan mereka anggap sebagai perpanjangan petunjuk dari Tuhan.

Diam mungkin juga merupakan solusi terbaik, tapi as a fucking extrovert person i am, kalo ada yg cerita ato perlu saran, otak gw gatel klo gak menyarankan, tapi trus gw bingung, apa yang sebaiknya gw katakan kalo situasinya begini?

Maka kita kembali pada pertanyaan, how to give a good advice to a close friend who already thinking about a divorce plan?

Manusia itu aneh, ditambah satu lagi yang setipe, trus tinggal di satu tempat dalam jangka panjang there's got to be a whole lot of stok sabar, dan kemampuan untuk mengalahnya uda gak bisa tingkat medium ato amateur,uda harus lebih dari profesional, but then manusia itu diciptakan dengan se-kepala otak, dan se-badan ego, menurut ngana?

Lalu gimana caranya menyarankan seorang teman yang sudah berpikir tentang cerai untuk tidak terlalu terburu-buru mengambil keputusan?

I'm a human after all, musingin hal yang sebenarnya gak ada sangkut pautnya sama gw, FML, ato mungkin karena... sometime hetero people annoys me to bits, karena mereka jarang ada penghalang yang berarti untuk mutusin menikah tapi tetap ego mereka masing-masing di nomer satukan ketika menghadapi masalah rumah tangga, sedangkan guuuweeeh, mau elus sayang ato mandang sayang pacar gw di tempat umum aja kudu hati-hati, but then... it easy to take some things for granted, kalo kita cenderung mudah mendapatkan ato mewujudkannya kan?

Jadi gimana?

Kasih saran aman? Diam? Ato caci maki? HAHAHAHA

Jangan nikah, kalo ego lu masih lebih gede dari tinggi ato berat badan lu.

Sedih, karena, they're such a great couple.

Thursday, October 12, 2017

Mungkin kita butuh app untuk empati. Serius.



Gue masih suka heran mampus dengan ketidak mampuan orang lain yang kurang lebih kondisi mentalnya masih masuk ke spektrum "normal", tapi ngga mampu untuk punya empati ke manusia lain. Apalagi mereka-mereka yang termasuk dalam kelompok minoritas (note, kemungkinan lo termasuk dalam kelompok minoritas sebenarnya 99% karena kalau konteks, situasi dan kondisi lo diubah-ubah, pasti gue bisa menemukan lo bagian dari kelompok minoritas tertentu). Belum lagi kalau ditambah mereka-mereka ini pernah mengalami yang namanya diskriminasi, dilecehkan, dan terjebak stereotipe dari orang lain. 




Kalau pernah sakit hati, tersinggung, ngga suka mendapat perlakuan seperti itu dari orang lain karena rasanya ngga adil, kenapa dilakukan ke orang lain lagi?

Bales dendam? Intelegensinya ga sampe untuk buat benang merah? Kurang pergaulan sampai ngga tau ada orang-orang lain yang diperlakukan ngga adil persis seperti yang dia alami?

Waktu gue kuliah dan belajar tentang mental illness, otomatis gue belajar "siksaan" masing-masing individu maupun orang-orang sekitarnya yang harus menghadapi gejala-gejala ngga enak dari gangguan mental. Di buku teksnya sih cuma dikasih sepintas apa yang para individu ini rasain, tapi gue bisa tuh otomatis berempati dengan para individu ini. 
 
Bukannya itu salah satu kemampuan dasar manusia ya? 

Bahkan ke para sosiopat dan pedofil pun ternyata gue masih bisa menemukan celah-celah untuk berempati kalau ada hal-hal yang di luar kuasa mereka. Definisi "hal-hal yang di luar kuasa" pun juga ngga sesederhana "apa yang mereka sudah lakukan, artinya mereka ambil keputusan secara aktif dan sadar". Faktor-faktor seorang manusia pada akhirnya punya nilai yang dia pegang erat banyak banget.
Sama ketika lo di-judge sama orang secara hitam putih padahal sebenernya lo punya beberapa alasan (yang menurut lo pribadi) kuat kenapa lo melakukan sesuatu dan pantas untuk setidaknya didenger dulu sama orang lain yang nge-judge lo. 

Lalu mengaca ke diri gue sebagai perempuan (Hi, sexism) dan queer (bisexual pula yang seringnya sering ga dianggep juga sama para homo). Lalu masuk ke era terorisme ekstrimis muslim seperti Al-Qaeda dan ISIL yang berujung ke kepercayaan gue jadi bahan caci maki dunia internasional.

Begitu banyak kesalah pahaman antara pengelompokan semu manusia dan jauh lebih banyak yang ngga sadar kalau apa yang mereka lakukan ke orang lain adalah hal yang mereka ga suka alami ketika mereka di posisi objek. 


Yang Atheis asik menghina yang beragama, begitu juga sebaliknya. Yang cacat fisiknya bisa homofobik. Yang di kantor ngga naik-naik pangkat karena jenis kelaminnya perempuan, pulang ke rumah lalu ngomongin anak tetangga yang katanya sudah ngga perawan. Dan yang miskin pikir semua orang berada pasti sombong. 

6000 tahun peradaban manusia. Ukuran otaknya katanya tambah besar. Udah bisa saling komunikasi dari sisi dunia yang berbeda. Udah bisa foto-foto planet terluar. Tapi kemampuan untuk berempatinya masih di situ-situ aja. Ngga bingung?

Monday, October 2, 2017

"Mau gue usia berapa pun, gue akan terus keep up dengan perkembangan musik".



This is a question for a truly music lovers. Pernah inget ngga at one moment in your younger self life, lo berpikir "Mau gue usia berapa pun, gue akan terus keep up dengan perkembangan musik". Biasanya pikiran seperti itu muncul karena kita sendiri baru liat orang-orang "tua" di sekitar kita yang ngga mengikuti musik-musik (minimal) top 40 saat itu. Biasanya juga, orang-orang "tua" ini pernah mencoba untuk bikin kita suka atau dengerin lagu-lagu jaman mereka yang menurut mereka keren banget. Most of the times, we can't click with those songs.

Ternyata setelah gue mulai masuk usia 25 tahun ke atas, gue mulai kaget waktu gue ngga bisa keep up dengan perkembangan musik-musik yang lagi hits. Malin (ade gue) yang jarak usianya cukup jauh, jadi constant reminder karena gue jadi banyak tahu lagu baru dari dia. Kadang juga dengan tambahan komentar ngga enak seperti, "Serius? Kakak ga tau lagu ini??" Karena pada suatu waktu ketika dia masih kecil, kiblat musik dia adalah musik-musik yang gue dengerin dan kesannya gue yang super up to date dengan musik. Sekarang malah kesannya jadi kebalik.

Menurut pendapat pribadi gue (yang sebenarnya sangat tidak akurat karena cuma meraba-raba pengalaman pribadi), gue merangkum 3 alasan kenapa pada akhirnya janji ke diri sendiri untuk keep up sama perkembangan musik itu sulit banget untuk ditepati:

1. Life, work and other shitty things yang mengurangi waktu kita untuk fokus ke musik seperti jaman-jamannya masih sekolah dan kita masih punya waktu berlimpah untuk guling-gulingan di kasur meratapi gebetan yang ngga tau eksistensi kita sambil dengerin radio (hayaaa masih jaman radiooo haha)

2. Technology takes a good part in making it harder to keep up with every.single.new.music that come out. Sekitar 15 - 20 tahun yang lalu, gue bisa tahu ada musik baru hanya bisa dari nonton MTv atau acara mingguan new release di Prambors XD Kalau lo mau jadi musisi terkenal, pilihan jalur yang bisa lo tempuh sedikit banget. Sekarang? Medianya untuk mulai karir lo di bidang musik ada banyak banget . Youtube atau Soundcloud cuma dua dari puluhan pilihan. "Indie records" udah bukan hal yang spesial untuk suatu musisi untuk punya sifat unik. Walaupun secara prinsip tetep aja beda antara label indie dan huge record company. Hasilnya, kita sebagai konsumen pun punya banyak banget pilihan juga untuk dapet musik baru. 

3. Ada penelitian yang bilang kalau lagu-lagu yang paling kita suka dan pada akhirnya jadi genre utama pilihan kita, adalah lagu-lagu yang kita suka di usia masuk remaja or around 14 years old.  Menurut penelitian, anak-anak usia 14 tahun paling gampang nerima lagu-lagu yang paling populer saat itu dan perlahan sesuai usia akan drift away dan menemukan genre paling pas dengan kesukaan mereka. Pada akhirnya, naturally, ketika si artis favorit top 40 pun ngga se-terkenal dulu, mereka akan tetap ngikutin sepak terjangnya dan tetap setia dengan genre itu. Sedangkan genre setiap beberapa tahun berubah dan bercabang, making this situation is even more complicated



Kebayang kan betapa kompleksnya musik pada akhirnya dan usaha kita untuk usaha keep up dengan perkembangan musik secara alamiah akan terkikis pelan-pelan. Lucunya ketika Malin masuk usia 21 tahun, dia bilang ke gue juga kalau, "Mau gue usia berapa pun, gue akan terus keep up dengan perkembangan musik" lol

Jadi, kira-kira menurut kalian hasil penelitian ini bener ngga? Apa genre favorit kalian di usia 14-an masih jadi preference kalian saat ini? Apa kalian juga tambah sulit untuk keep up dengan musik terbaru setelah masuk usia 25 tahun? (pst, I feel bad for the generation who grew up with Bieber and One Direction. OOPS hehe nah, just half kidding about it) Ada alasan lain yang mau ditambahin? Let us know what are the popular music when you were 14 and is it really the genre you still listen to until now.